Kamis, 20 November 2008

ayat Al-Qur'an (yasin) tentang lautan


ayat 41-50

وَآيَةٌ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
41. Dan suatu tanda bagi mereka, Kami angkut keturunan mereka dalam kapal yang penub muatan

Dalam sejarah, ayat ini merujuk kepada umat Nabi Nuh. Ayat ini juga merujuk kepada janin manusia yang dikandung dalam rahim. Kecuali dalam dua perbedaan vokal, kata Arab untuk "kapal" (fulk) hampir identik dengan kata "orbit" (falak) di ayat sebelumnya di mana Alquran mengatakan bahwa planet-planet secara harfiah "berenang" di garis edar-nya meskipun kita menerjemahkannya "masing-masing beredar pada garis edamya". Kapal juga mengapung, tetapi di air, bukan di atmosfir. Hubungan-hubungan antarperistiwa alam direfleksikan dalam bahasa pilihan agar terungkap secara tepat.

Kata Arab masyhun, yang diterjemahkan dalam ayat ini sebagai "penuh muatan", asalnya bermakna "penuh" atau "terisi", memberi kesan bahwa segala sesuatu diisi dan bergerak maju menuju tugasnya berupa pengekalan Yang Mahaabadi (al-Baqi). Inilah makna dari memiliki keturunan (dzurriyyah), yang juga mempakan pengabadian dari peristiwa Ilahiyah. Hubungan intim seseorang dengan istri atau suaminya merupakan sebuah ibadah. Karenanya, bila ia memulai hubungan ini, ia harus selalu membaca basmalah (Bismillah ar-Rahman ar-Rahim). Jadi, ajaran tentang penyatuan (wahdah) diterapkan secara fisik dan terus-menerus. Dengan demikian, konsep wahdah ini tidak hanya ada secara batiniah, tapi juga mewujud secara lahiriah pada anak-anak kita.

وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ
42. Dan Kami ciptakan untuk mereka yang serupa dengan kapal untuk mereka kendarai

Segala sesuatu di alam ini berada dalam orbit yang melingkar atau "naik" di atas sesuatu. Tujuan ayat-ayat serupa ini adalah untuk mendorong akal manusia agar ia merenungkan kesatuan dalam keragaman yang luar biasa ini, agar ia terbangun kesadarannya menuju ke keadaan yang lebih tinggi berupa pengagungan dan pensucian Allah yang terus-menerus, sehingga berada dalam kesadaran penuh. Secara lahiriah ia berpindah-pindah dengan naik mobil, kereta, kapal laut atau kapal udara, sedangkan secara batiniah ia berpindah-pindah dengan naik kendaraan zikir Nama-Nama Allah menuju alam batiniah.

وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ
43. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tengge-lamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidakpula mereka diselamatkan

Jika keseimbangan yang mengatur kehidupan ini terganggu, maka semua akan ditenggelamkan sesuai ketetapan Allah. Kehendaknya terwujud dalam hukum-hukum yang mengatur segala sesuatu, baik yang terlihat maupun tidak terlihat: jika manusia melanggar hukum-hukum tersebut, maka mereka akan menjadi tak berdaya, didaurulang dan dikembalikan ke Sumbernya. Hal yang sama terjadi terhadap batin kita. Kita dapat menggelepar-gelepar dalam lautan jiwa-ego kita (nafsu rendah) karena tidak mengikuti hukum-hukum batiniah berupa akhlak yang terpuji. Perjalanan lahiriah di laut mempunyai aturan-aturan tersendiri— seseorang harus yakin bahwa kapal tersebut laik melaut. Perjalanan menuju kesucian dan kesadaran batin membutuhkan perlindungan dan pertahanan, bila tidak, seseorang akan tenggelam dalam badai kebimbangan, keputus-asaan dan khayalan.

Namun waktunya akan tiba tatkala keseimbangan tidak dapat dipertahankan kecuali dengan sebuah peristiwa yang bersifat perubahan besar. Ketika Nabi Nuh datang kepada kaumnya dengan tugas menyampaikan risalah Kebenaran, ia memerintahkan kaumnya untuk berputar haluan sebelum teriambat. la memperingatkan mereka bahwa perbuatan-perbuatan mereka akan mengakibatkan reaksi yang berbahaya. Setelah itu ia mengadu kepada Allah seraya berkata, "Aku telah berdakwah kepada mereka siang-malam, tetapi mereka tidak memperhatikan dan keras kepala." Jawaban yang diperoleh Nuh adalah jika ia tidak dapat menyelamatkan kaumnya, maka ia harus menyelamatkan hidupnya sendiri dan para pengikutnya. Gelombang kelaliman yang dibangkitkan oleh perbuatan kaum Nabi Nuh telah mencapai puncaknya, dan gelombang itu sekarang akan menggulung mereka.

Ketika seseorang berada dalam kapal berupa Kitab Yang Mahawujud, Alquran, yang diarahkan oleh tradisi (sunah) Nabi Muhammad, Rasul dan Risalahnya, berarti ia meyakini risalah yang benar.

إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ
44. Kecuali karena rahmat dari Kami, dan sebagai kese-nangan hidup sampai kepada suatu ketika

Tak ada yang akan meyelamatkan siapa pun kecuali rahmat Allah. Diterjemahkan sebagai "kesenangan hidup", mata', yang berarti perbekalan yang harus dibawa dalam suatu perjalanan, menunjukkan bahwa perbekalan itu hanya cukup untuk satu periode tertentu. Kata ini juga berarti "bagasi", karena orang hanya menamh ke dalam bagasinya apa yang dibutuhkan untuk suatu perjalanan tertentu. Ayat ini menegaskan bahwa jika bukan karena rahmat langsung dari Allah dan karena perbekalan untuk perjalanan hidup ini, semua manusia telah tenggelam dalam lautan kebodohan. Pada kenyataannya, kesenangan hidup ini hanya sebentar.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
45. Dan apabila dikatakan kepada mereka: Lindungilah diri kamu dengan ketaqwaan terhadap apa yang ada di hadapanmu dan di belakangmu, agar kamu memperoleh rahmat

Inilah peringatan agar manusia secara waspada menyadari terhadap amal perbuatan yang dilakukannya, terhadap apa yang dilakukan oleh tangannya sendiri, dan terhadap niat-niat di belakang amal perbuatan tersebut, karena segala sesuatu pada saat sekarang ini merupakan perwujudan masa ialu. Apa yang terbentang di hadapan seseorang merupakan imbas masa lalu sekaligus akan menjadi masa depannya. Jadi manusia harus sepenuhnya menyadari motif-motif perbuatannya, karena inilah yang akan menentukan apakah dirinya selamat atau justru diazab, setiap saat masing-masing kita sibuk menghasilkan perbuatan. Burung pertanda baik atau pertanda buruk kita, penyebab penderitaan atau keselamatan kita, terdapat dalam diri kita sendiri, ditulis oleh niat-niat kita dalam buku catatan amal kita.

Manusia harus terus menyadari hal ini agar merasakan kepuasan batin dan memahami rahmat Allah secara langsung dalam hidup ini, karena "Dia telah menetapkan atas dirinya rahmat/kasih sayang" (6: 12). Jika seseorang selalu menyadari apa yang ia lakukan di masa sekarang dan di masa lalu, berarti ia mulai memahami hukum-hukum alam melalui kesadarannya tentang hukum sebab akibat.

وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ آيَةٍ مِّنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ
46. Dan tiadalab datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda Tuhan, melainkan mereka selalu berpaling darinya

Sebagaimana keadaan penduduk Anthakiyah, demikian pula keadaan kaum yang didatangi Nabi Muhammad, dan juga kebanyakan umat-umat lain di sepanjang waktu, termasuk zaman kita sekarang. Tiap tanda yang datang kepada kita, yang menunjukkan jalan kehidupan yang benar, ditolak. Kita tidak mengizinkan risalah sampai kepada kita dan mengubah gaya hidup kita. Ayat ini berhubungan dengan ayat 11, "Kamu hanya dapat memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Tak peduli tanda apa pun yang mereka terima dari Tuhan, mereka berpaling, karena satu-satunya realitas yang ingin mereka hadapi hanyalah tradisi yang telah mereka biasakan sejak dahulu kala, apa yang telah mereka bangun dalam khayalan mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمْ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
47. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Nafkahkanlab sebagian rezeki yang telah Allah berikan kepadamu." Mereka yang menolak dan mengingkari Yang Mahawujud berkata kepada orang-orang yang menerima dan percaya (risalah), "Apakah kami akan memberi makan orang, yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata."

Alquran selanjutnya memerintahkan untuk berderma dan bersedekah. Alquran tidak pemah mengatakan, "Am-billah!" atau, "Mintalah!" Tak ada ayat dalam Alquran yang memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi dengan tujuan memburu rezeki atau menumpuk kekayaan, maupun yang menyerupainya. Alquran menentang penumpukan harta. Kitab Allah Yang Mahawujud, jalan menuju kepada-Nya, bergantung pada penyerahan diri, bukan pada penggandaan hasrdt dan cinta. Manusia harus menafkahkan rezeki yang dianugerahkan kepadanya, agar rezeki tersebut berkembang. Kepedulian ditunjukkan dengan saling beibagi dan saling memperhatikan, dan makna sedekah terletak pada memberikan apa yang seseorang cintai dan apa yang ingin ia simpan. Melalui sedekah, manusia melakukan kontak dengan sifat Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih yang meliputi semua makhluk.

Rezeki (rizq) berarti berbagai jenis santapan, baik rezeki tingkat tinggi berupa pengetahuan batin maupun rezeki tingkat rendah berupa makanan dan kesehatan. Rezeki tertinggi adalah apa yang datang langsung kepada seseorang yaitu dengan menyerahkan diri kepada Allah dan meninggalkan semua keinginan dan harapan duniawi, serta mengingat bahwa ia dilahirkan tanpa apa pun dan akan meninggalkan dunia tanpa apa pun juga. Rezeki tertinggi adalah rezeki berupa penyerahan diri yang sesungguhnya, Islam sejati, penyerahan diri tanpa batasan, tanpa pemisah. Inilah pengetahuan dari Tuhan.

"Nafkahkanlah" tidak hanya bermakna memberi derma. la juga bermakna "menjadi saluran rahmat Allah", membersihkan (saluran tersebut) agar selalu dapat diisi kembali. Mereka yang mengingkari Allah Yang Mahawujud (kafirun) berusaha mempersiapkan diri mereka dengan hartanya karena mereka hidup dalam keterpisahan; mereka melihat diri mereka terpisah dari Allah. Mereka melihat diri mereka seolah jauh dari Allah karena segala sesuatu dianggap berada dalam dualitas, sehingga mereka mengatakan, "Mengapa Allah tidak melakukan itu sendiri?" Karena melupakan makna kehidupan, mereka tidak dapat melihat bagaimana Allah berbuat kepada alam-Nya, kepada makhluk-makhluk-Nya. Kita tidaklah terpisah dari Yang Mahawujud yang tidak berawal dan tidak pula berakhir. Allah lebih dekat kepada kita dari pada urat nadi kita sendiri. Tubuh kitalah yang justru berawal dan berakhir, namun karena kebodohan kita sendiri, kita secara salah mengukur segala sesutu termasuk Tuhan dengan ukuran tubuh fisik kita. Inilah definisi peng-ingkaran, inilah kufur.

Mereka yang ingkar berada dalam kesesatan yang tidak memungkinkan risalah tauhid sampai kepada mereka. Se-gala sesuatu mereka lihat dari aspek lahiriah, tidak bisa merenungkan amal-amal batin yang tidak kentara. Allah telah menetapkan hukum-hukum alam. Mereka yang mengikuti hukum-hukum-Nya dihubungkan dengan Tauhid, sedangkan mereka yang tidak berada dalam kesesatan dan oleh karenanya mengalami penderitaan meskipun secara lahiriah mereka memiliki kekayaan materi yang banyak.

وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
48. Dan mereka berkata: Kapan janji ini datang, jika kamu orang-orang yang benar?

Orang-orang kafir dibodohi oleh khayalan waktu. Mereka tidak menyadari bahwa pandangan statis tentang waktu adalah pemberian Allah kepada manusia agar ia mampu merasakan tiadanya waktu. Oleh karena itu, mereka berada dalam keadaan sesat bahkan mereka lupa bahwa pada akhir kehidupannya, mereka akan terkubur di kedalaman enam kaki dari permukaan tanah. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa hidup manusia tergantung pada sebuah tarikan nafas.

مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ
49. Mereka menunggu hanya satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka padabal ketika itu mereka sedang bertengkar

Semua urusan mengenai waktu ini hanya omong kosong! Allah menerangkan kepada kita bahwa waktu bersifat relatif dan menyesatkan. Manusia akan merasakan kiamat tatkala mereka merasakan satu teriakan, sekali, namun pengaruhnya mengerikan. Teriakan ini menandai perubahan menyeluruh dalam sistem. Satu teriakan (shayhah wahidah) menghentikan sistem kehidupan dan sistem waktu.

Satu teriakan yang tiba-tiba ini merupakan panggilan pertama yang menandai akhir kehidupan individu. Panggilan kedua, yang disebutkan dalam ayat selanjutnya, merupakan "panggilan hari kebangkitan" yang memberi isyarat kepada kita untuk menghadap Tuhan dan mempertanggung-jawabkan seluruh amal dan niat kita. Pada saat itu kita merasakan akibat perbuatan kita di dunia. Jika kita menghasilkan untuk diri kita hal-hal yang mengarah kepada rahmat-Nya, maka kita akan merasakan rahmat itu. Namun jika kita berbuat menonjolkan yang kotor-kotor dan bersifat materi, maka kita dalam kemgian besar di kehidupan baru ini.

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
50. Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidakpula mereka dapat kembali ke kelnarganya

Aturan-aturan yang telah mereka buat dalam hidup mereka, alur-alur dan rencana-rencana mereka yang banyak, seketika itu terputus. Terlambat sudah untuk kembali. Mereka tidak dapat lagi berwasiat. Mareka akan terhenti di tengah perjalanan, tanpa bantuan sama sekali.

"Tidak pula mereka dapat kembali kepada keluarganya": tidak dapat kembali kepada keluarganya berarti tidak dapat kembali kepada kebiasaannya. Dunia mereka telah berakhir, tak ada lagi kemungkinan untuk beramal, dan mereka tidak dapat mencari siapa pun untuk dimintai bantuan.

Dalam bahasa Arab, kematian disebut dengan wafah, dari akar kata kerja wafa' yang juga berarti setia. Dengan mati, seseorang setia kepada kenyataan alamiah. Waktunya akan tiba ketika jiwa berpisah dari badan. Jiwa (roh) kembali ke asalnya, kepada Allah, dan badan kita kembali ke asalnya, ke tanah. Dengan demikian, ciptaan selalu setia kepada asalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar